Culture & Social Network

Terms of Use

February 28th, 2009 OKNO Posted in Terms | No Comments »

Dear Folks,

Seal for cultural site

Seal for cultural site

I am so sorry that it’s has been more than 2 months since last January 2009 I couldn’t stay with you this virtual life, OUR LIFE!. I am trying to find the real find between us. I hope this site can make our life real to get a better life within diversity to live in harmony. Is it only a dream? Have you got any idea to make it real?

Well, since many Spam entering our site so I think it’s time for us to make such a code of conduct or some a rule of a game to play with..err I mean the limitation to use this site. I have set up this site for every one to join to be an author. It means that from now you may to post anything you want to. Well I hope you would not to post any kind of adult material or ….?

Please express your motion and emotion about the rule that we are going to use. As we consist that this site is a cultural and social networks within diversity and harmony.

Palumu Paluku

Palumu Paluku

Bellow is just a proposal for you to edit or revise.

Disclaimer
All the pictures and news shown on this blog are the property of their respective owners. We don’t hold any copyright about these pictures and news. These pictures have been collected from different public sources including different websites, considering to be in public domain. If any one has any objection to displaying of any picture and news, it may be brought to our notice by sending email & the same will be be removed immediately,after verification of the claim.

See more…..

About Us

Share This Post

Widget Njowo

August 26th, 2008 OKNO Posted in Internet | No Comments »

Umpan Geni Nggugel

NJOWO-Multiply Group

↑ Grab this Headline Animator

Head Animator

Subscribe to RSS headline updates from:
Powered by FeedBurner


Visit the Widget Gallery

Share This Post

Cheng Ho dan Semarang

August 20th, 2008 OKNO Posted in Culture, News | No Comments »

Beranda

LAKSAMANA CHENG HO

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Patung Cheng HoPerkenankan saya olah dan saya edit tulisan yang terhormat Bapak Ihza Mahendra yang saya ambil dari situs pribadi beliau untuk menjadi kajian kami para warga NJOWO Multiply di sini. Dengan tidak mengurangi keaslian tulisan Bapak sebagian kalimat dan foto-foto ini saya sambung langsung ke situs Bapak. Semoga menjadi sumber inspirasi kami dalam mengenang perjalanan Beliau Laksamana Cheng Ho dan mengambilo hikmahnya.

Menarik sekali apa yang ada pada paparan Bapak Yuzril muat di situsnya tentang film yang dibintanginya pada suatu episode yang disiarkan oleh statisun Metro TV setiap malam minggu pukul 21.30 WIB.

Dalam tulisan ini  saya tidak akan mengajak anda untuk  membicarakan  tentang film yang dimaksud, melainkan saya  ingin sekedar mengajak pemirsa  masyarakat NJOWO ini untuk sekilas menapak tilas jejak-jejak langkah Cheng Ho Admiral Zheng He di kota saya Semarang dan akan saya tambahkan beberapa foto-foto yang milik warga NJOWO Multiply, Sdri. Mutiara Damayanthie. Banyak hal-hal yang menarik dengan melacak jejak ini. Semoga anda berkenan unutuk mengkajinya kembali.

IMG_2949

Harapan utama dengan teknik sambung menyambung ini semoga bisa mempermudah kita dalam melacak jejak Cheng Ho. Bila anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang film ini silahkan mengunjungi alamat situs Bapak Ihza Mahendra pada artikel sebelumnya di blog di sini.

Dikisahkan perjalanan hidup sang laksamana Admiral Zheng He sejak lahir sekitar tahun 1370 Masehi hingga wafat di tahun 1432. Cheng Ho yang nama aslinya adalah Ma He – dalam Bahasa Arab adalah Muhammad Siddiq – lahir dari keluarga Cina Muslim kebanyakan di Provinsi Yunnan, dekat perbatasan Vietnam sekarang ini. Ayahnya yang bernama Ma Hazi atau Haji Ma adalah pemuka sebuah kampung. Dalam situasi yang bergolak Ma Hazi didaulat oleh penduduk sekitar untuk memimpin perlawanan terhadap Kaisar Ming yang kedua, dan beliau tewas dalam sebuah pertempuran. Ma He kecil, sangat sedih dengan kematian ayahnya dan sangat prihatin dengan ibu dan dua adik perempuannya yang ditawan dan akan dibunuh. Sebab itulah, dia merelakan dirinya untuk dikebiri, dengan imbalan ibu dan dua adiknya dibebaskan. Jendral Poh Yu Te yang memimpin pasukan Ming di Yunan, memenuhi permintaan Ma He. Dia dikebiri dan harus ikut menjadi abdi dalem istana. Ibu dan adik-adiknya dibebaskan.

Ma He yang taat menjalankan agama Islam dikenal sebagai kasim – sebutan bagi orang yang dikebiri – yang sangat rajin belajar dan berdisiplin tinggi. Berbeda dengan ayahnya yang berperang melawan Ming, Ma He ikut milisi untuk membela Ming. Karena prestasinya, dia diangkat menjadi pembantu terdekat Pangeran Ming Chui Ti, dan pindah ke sebuah puri – yang belakangan menjadi Kota Terlarang – di kota Beijing. Sejarawan China menyebutkan Ma He sering datang ke Mesjid Niuw Che, mesjid tertua di Beijing yang dibangun oleh dua imam dari Persia yang menyebarkan agama Islam ke China pada abad ke IX Masehi. Mesjid Niew Che yang masih ada sampai sekarang dan menjadi mesjid antik bergaya kelenteng adalah mesjid yang dilindungi oleh Pemerintah China, dan dijadikan sebagai monumen Islam di Negeri Tiongkok. Saya sendiri beberapa kali bersembahyang, termasuk sembahyang Jum’at di mesjid ini yang khutbah dan pengajiannya dilaksanakan dalam Bahasa Mandarin.IMG_2784

IMG_2929Di Beijing Cheng Ho akhirnya menjadi penasehat Pangeran Ming Chui Ti yang suatu ketika menjadi sangat marah, karena ayahnya menunjuk cucunya –yakni putra dari pangeran pertama yang wafat — menjadi kaisar. Ming Chui Ti adalah pangeran kedua yang menurut tradisi China akan menjadi kaisar jika pangeran pertama meninggal lebih dahulu. Kaisar baru, Chu Yu Wen, yang masih muda, ternyata banyak melakukan kekejaman, yang membuat Pangeran Ming Chui Ti tambah marah, sehingga akhirnya dia memberontak melawan Kaisar. Dia menunjuk Ma He sebagai panglima perang dan mempimpin penyerbuan dari Beijing ke Nanjing yang ketika itu menjadi ibukota Kekaisaran Ming. Menurut sejarawan China, jarak antara Beijing dengan Nanjing waktu itu dapat ditempuh dengan kuda yang berlari kencang selama 23 hari perjalanan. Dalam sejarahnya, Ma He memimpin 30 ribu pasukan menggempur Beijing selama tiga tahun, sampai akhirnya mereka memenangkan pertempuran. Pangeran Ming Chui Ti akhirnya berhasil merebut tahta. Dalam sejarah China, Ming Chui Ti dikenal dengan julukan Kaisar Yong Le atau Yung Lo, yakni kaisar terbesar dalam sejarah China. Ma He yang kemudian diberi marga baru Zheng atau Cheng– yang akhirnya memakai nama Zheng He atau Cheng Ho – praktis menjadi orang kedua di kekaisaran Ming. Ketika ibukota Ming pindah dari Nanjing ke Beijing dan membangun Forbidden City sekarang ini, maka Kaisar Yong Le mengendalikan pemerintahan dari Beijing dan Cheng Ho mengendalikan pemerintahan dari Najing sebagai wakil Kaisar. Peristiwa ini terjadi menjelang akhir hayat Kaisar Yong Le, setelah Cheng Ho kembali dari pelayaran yang ketujuh menjelajahi pantai timur benua Afrika.IMG_2937

Mengapa Cheng Ho berlayar mengarungi samudera luas sampai ke benua Afrika itu? Setelah Pangeran Ming Chui Ti merebut takhta, dia dan Cheng Ho masih memerlukan waktu beberapa tahun untuk menyatukan dan membangun ekonomi Tiongkok. Setelah semuanya berjalan, Kaisar bertanya kepada Cheng Ho, apa lagi yang harus mereka kerjakan. Cheng Ho menjawab, inilah saatnya kita membangun perdamaian dunia dan menjadikan Tiongkok sebagai pemimpin dunia. Untuk mencapai rencana itu, Cheng Ho mengusulkan agar Kekisaran Ming membangun armada angkatan laut yang besar dan kuat agar mereka dapat menjelajah dunia dalam membangun persahabatan, perdamaian dan kerjasama dengan bangsa-bangsa lain. Walaupun rencana ini ditentang oleh Menteri Keuangan Liu Taxia dan beberapa jenderal, namun Kaisar setuju. Kaisar memutuskan menunjuk Cheng Ho menjadi laksamana yang memimpin angkatan laut kekaisaran dengan misi membangun perdamaian dan menyelesaikan konflik di seluruh dunia. Sejak itu, Cheng Ho berubah dari panglima angkatan darat, menjadi panglima angkatan laut.

Enam tahun lamanya Cheng Ho membangun 320 armada dan merekrut 28.000 prajurit angkatan laut dan melatih mereka. Setelah semuanya siap, sebelum berlayar, Cheng Ho sengaja datang berziarah ke makam Saad bin Abi Waqqash – salah seorang sahabat Nabi Muhammad S.a.w yang ikut ke hijrah ke Negeri Habsyi dan wafat di Tiongkok — di Guang Zhou. Cheng Ho mungkin ingin mengenang sahabat Rasulullah itu karena beliau adalah salah seorang sahabat dekat Rasulullah yang berlayar begitu jauh dari Habsyi – Ethiopia sekarang ini – menuju daratan Tiongkok. Peristiwa itu terjadi sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Kisah tentang Saad bin Abi Waqqash ini mengindikasikan bahwa Islam telah disebarkan di Tiongkok pada saat Rasulullah S.a.w masih hidup. Walaupun makam Saad sampai sekarang masih misterius. Sebagian sejarawan mengatakan Saad kembali bergabung dengan Rasulullah di Madinah, namun sebagiannya lagi mengatakan tidak. Saad tak sempat ikut hijrah ke Madinah, sampai beliau wafat tetap berada di Guang Zhou.Cheng Ho Jump 023Cheng Ho Jump 018

Dalam sejarahnya, Laksamana Cheng Ho memimpin delapan kali missi muhibah pelayaran mengunjungi banyak negara di zaman itu. Dia sama sekali tak ingin menggunakan kekuatan militer untuk memaksa negara lain mengikuti kemauannya. Cheng Ho bersikap persuasif mengajak negara-negara lain untuk menyelesaikan konflik secara damai. Dia berusaha mendamaikan antara Majapahit dengan Blambangan, antara Ayuttaya dengan Swarnabhumi, antara Majapahit dengan Melaka dan membantu banyak negara dengan bantuan teknis militer, perdagangan, industri, pertanian dan kesehatan. Cheng Ho juga membawa misi mengamankan laut, khususnya Selat Malaka, agar alur pelayaran timur dan barat dapat berjalan dengan lancar. Untuk itulah dia membantu Melaka membangun pangkalan angkatan laut, melatih militer Melaka dan menampatkan sekitar 600 penasehat militer di Bandar Melaka. Cheng Ho berhasil meyakinkan Melaka, bahwa Dinasti Ming dari Tiongkok takkan mengulangi ekspansi dan penjajahan – seperti pernah dilakukan Dinasti Yuan – yang pernah memaksa Ken Arok dari Kerajaan Kediri agar takluk kepada Tiongkok. Cheng Ho ingin membangun kemitraan dan kerjasama dengan negara lain, dengan tetap menghormati kedaulatan negara itu.

Lampung Cheng Ho 056Di luar missi resmi yang diemban atas perintah Kaisar, Cheng Ho dan nakhoda kapal induknya Wang Ching Hong – yang makamnya ada di Semarang dan dikenal dengan sebutan Panembahan Dompu Awang atau Kiyai Jurumudi – membawa misi pribadi mereka untuk menyebarkan agama Islam. Raja Parameswara dari Melaka adalah raja Melaka pertama yang memeluk agama Islam atas ajakan Laksamana Cheng Ho. Sejak itu Parameswara mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah dan mengubah Melaka dari kerajaan Hindu menjadi kesultanan Islam. Wang Ching Hong setelah pelayaran ketujuh memutuskan untuk tinggal di Semarang dan pensiun sebagai nakhoda. Wang Ching Hong yang hafal Qur’an dan pandai berbahasa Arab dan Persia, bergabung dengan Sunan Bonang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah, sampai ia wafat dan dimakamkan di tempat yang kemudian berdiri Kelenteng Sam Po Kong di kota Semarang.

Kisah Laksamana Cheng Ho sangatlah panjang. Bukan saja kisah misi muhibah perdamaian yang dijalankannya, tetapi juga kisah intrik politik di Kekaisaran Ming sendiri. Khususnya intrik yang dilakukan Menteri Keuangan Liu Taxia dan Jendral Ma Kwee yang terus-menerus menentang misi pelayaran Cheng Ho. Dalam film serial ini juga dikisahkan beban psikologis yang berat yang dialami Cheng Ho sebagai seorang kasim yang dikebiri. Dia pernah menaruh hati dengan seorang gadis Muslimah bernama Sin Hwa, namun apa daya dia telah menjadi kasim. Namun walaun menderita secara psikologis, dia tetap bersyukur kepada Allah, karena semua itu mengandung hikmah bagi dirinya. Pada episode ke 24 dari film ini – yang selurunya ada 30 episode – dikisahkan dialog antara Cheng Ho dengan Kaisar Yong Le mengenai kebijakan setiap dinasti untuk mengebiri setiap petugas istana itu. Kaisar nampak bingung mengenai tradisi yang telah berlangsung selama 2500 tahun itu dan menunjukkan empati yang dalam atas mereka yang dikebiri. Kaisar menyadari bahwa hal itu bertentangan dengan fitrah manusia, sebagaimana dijelaskan Cheng Ho dengan mengutip ayat-ayat al-Qur’an.

IMG_0001Film serial ini berakhir dengan wafatnya Laksamana Cheng Ho sekembalinya dari menunaikan ibadah umroh di kota suci Mekkah. Cheng Ho wafat di Lautan Hindia di selatan Pulau Sri Lanka pada tahun 1432. Sebelum wafat dia berpesan, agar kalau dia mati, jenazahnya harus ditenggelamkan ke dasar laut sebelum matahari terbenam. Karena sakit Cheng Ho akhirnya wafat dengan tasbih yang jatuh dari tangannya dengan mengucapkan kata La Ilaha illallah. Semua orang menangisi kepergiannya. Hidupnya bagai sebuah legenda. Namun menurut sejarawan China, tak ada anak buah Cheng Ho yang berani membenamkan jenazahnya ke dasar laut seperti permintaannya. Jenazahnya dibawa pulang ke Nanjing dan dia dimakamkan di depan sebuah mesjid dengan sebuah upacara kebesaran militer yang dihadiri oleh Kaisar Ming yang baru yang menggantikan Kaisar Yong Le.

Akhirnya, saya ucapkan selamat menyaksikan film serial versi Bahasa Indonesia yang ditayangkan Metro TV ini, dengan segala kekurangan yang ada…

Wallahu ’alam bissawwab

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — August 19th, 2008

Edit olah pada Tgl. 20 agustus 2008 oleh : OKNO

Berikut saya lampirkan sekilas beberapa fotto yang saya ambil dari Sdri. Damayanthie yang telah kami konversikan dalam bentuk flash play dari Blog Multiplynya

Share This Post

Java on wedding party

July 28th, 2008 OKNO Posted in Culture, Jawa | No Comments »

Welcome to the wedding party, originally uploaded by BornJavanese.
Lanang Jowo
Wiayaga

Sekilas Jawa dari belakang

GEN DREW 001

↑ Grab this Headline Animator

Share This Post

Mengenal Seni-Puisi Rumمولان

July 28th, 2008 OKNO Posted in Culture | No Comments »
 
My Friend Max inspires me to learn about Rumi, a person lived a long long ago that I want to know more about. Thank you Max, this is your journal that I want to learn from. I share all your post directly, so let me and my friends know about this. Reading this poem something unknown zone in my heart and my soul fly over. Can you describe it?

Mawlānā Jalāl-ad-Dīn Muhammad Balkhī (Persian: مولانا جلال الدین محمد بلخى), also known as Mawlānā Jalāl-ad-Dīn Muhammad Rūmī[1] (Persian: مولانا جلال الدین محمد رومی), but known to the English-speaking world simply as Rumi, (30 September 1207–17 December 1273), was a 13th century Persian poet, Islamic jurist, and theologian. Rumi is a descriptive name meaning "the Roman" since he lived most parts of his life in Anatolia or ‘Rum’, now located in Turkey.He was born in Balkh, (in modern Afghanistan, then part of Persia), the hometown of his father’s family, although important Rumi scholars believe that Rumi was born in 1207 CE in Wakhsh (Waḫš), a small town located at the river Wakhsh in what is now Tajikistan. Wakhsh belonged to the larger province of Balkh, and in the year Rumi was born, his father was an appointed scholar there.[6] Both these cities were at the time included in the Greater Persian cultural sphere of Khorāṣān, the easternmost province of historical Persia, and were part of the Khwarezmian Empire.His birthplace and native language, both indicate a Persian heritage.

Due to quarrels between different dynasties in Khorāṣān, opposition to the Khwarizmid Shahs who were considered devious by Bahā ud-Dīn Wālad (Rumi’s father) or fear of the impending Mongol cataclysm,his father decided to migrate westwards. Rumi’s family traveled west, first performing the Hajj and eventually settling in the Anatolian city Konya (capital of the Seljuk Sultanate of Rum, now located in Turkey), where he lived most of his life, composed one of the crowning glories of Persian literature and profoundly affected the culture of the area.He lived most of his life under the Sultanate of Rum, where he produced his works[13] and died in 1273 CE. He was buried in Konya and his shrine became a place of pilgrimage.[14] Following his death, his followers and his son Sultan Walad founded the Mawlawīyah Sufi Order, also known as the order of the Whirling Dervishes, famous for its Sufi dance known as the samāʿ ceremony. Rumi’s works are written in the New Persian language.

New Persian (also called Dari-Persian or Dari), a widely understood vernacular of Middle Persian, has its linguistic origin in the Fars Province of modern Iran.[15] A Dari-Persian literary renaissance (In the 8th/9th century) started in regions of Sistan, Khorasan and Transoxiana[16] and by the 10th/11th century, it overtook Arabic as the literary and cultural language in the Persian Islamic world. Although Rumi’s works were written in Persian, Rumi’s importance is considered to transcend national and ethnic borders.

His original works are widely read in the original language across the Persian-speaking world. Translations of his works are very popular in South Asian, Turkic, Arab and Western countries. His poetry has influenced Persian literature as well as Urdu, Bengali and Turkish literatures. His poems have been widely translated into many of the world’s languages in various formats, and BBC News has described him as the "most popular poet in America"

 

 

 

 

 

Link

Share This Post