Klakson : Perekat Kekerabatan Warga Sliyeg
July 16th, 2008 Posted in Culture, News, UmumDiposting oleh : Yudi David at Multiply
Klakson, Klasik Sing Dermayon, adalah program favorit di RTS (Radio Tambak Sari), Kecamatan Sliyeg, Indramayu. Klakson dibawakan dengan bahasa Jawa Indramayu oleh Diana Bleret, seorang seniman lokal, yang menjadi penyiar RTS. Lewat gaya bicaranya yang memancing tawa, Klakson mendapat tempat di hati warga.
RTS merupakan salah satu cikal bakal radio komunitas di Kabupaten Indramayu. Radio ini telah berdiri pada tahun 1991 dan ikut membidani lahirnya Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Blered sendiri baru bergabung di RTS baru sekitar dua tahunan. Awalnya, Ia menawarkan program promo bagi albumnya Embe Brekele yang diproduksi oleh Windu Suara Record, Cirebon. Album itu berisi lagu-lagu tarling yang berisi lagu-lagu jenaka. Sayang, penjualan album tersebut tidak meledak di pasaran, seperti layaknya penyanyi satu angkatannya Aas Rolani lewat album mabok bae.
Setelah promosi album, Bleret jatuh hati pada RTS, sehingga secara sukarela ia mau menjadi salah satu penyiarnya. Menjadi penyiar radio komunitas jelas berbeda ketika ia menjadi artis. Namun, rasa cintanya pada RTS membuatnya bertahan menjadi penyiar hingga saat ini.
"Orang hidup itu yang penting berkarya. Mempunyai banyak banyak teman adalah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya," ujarnya.
Selain siaran, Bleret membantu jaringan radio komunitas di Indramayu membuat berbagai iklan layanan masyarakat yang diproduksi bersama-sama. Selain itu, ia menjadi guru bagi warga yang ingin mengembangkan bakat seni di dunia tarik suara dan lawak. Warga Sliyeg bahkan memberikan nama panggilan "Bunda" pada Bleret sebagai penghargaan atas ketulusannya memberikan ilmu pengetahuannya tanpa pamrih.
Dalam acara Klakson, ia mengembangkan bahasa Dermayon menjadi bahasa yang indah dan komunikatif. Bleret menyadari bahwa bahasa Dermayon telah banyak ditinggalkan oleh masyarakat setempat karena dianggap pinggiran dan ketinggalan jaman. Menurutnya, hal itu hanyalah pelabelan negatif yang tidak dapat dibuktikan.
"Tidak banyak anak muda yang mampu berbicara dengan bahasa Dermayon dengan lancar, mereka lebih menyukai bahasa Indonesia karena malu disebut kampungan. Pengalaman saya mengelola Klakson sebenarnya bahasa Dermayon mampu menjadi perekat kekerabatan warga, banyak kosakata di bahasa Dermayon yang sulit tergantikan oleh bahasa lainnya," lanjutnya.
Kunci kesuksesan Klakson adalah kedisiplinan Bleret mengolah kata-kata Dermayon menjadi ungkapan yang menyentuh hati dan memancing empati. Hasilnya banyak pendengar yang datang ke studio karena ingin bertemu dengannya meski ia tidak siaran. Tak sedikit yang membawa makanan dan minuman kepadanya ketika tengah siaran.
Kerat kayu tempat kampret, ingat Indramayu sebut Bleret (yossy)
http://paryo.multiply.com





































Sorry, comments for this entry are closed at this time.