WayangNet versi 1.2
Oleh : Ki Dalang Gemblung Semar Mendem OKNO
Dalam Lakon
"Semar Jadi Duta Besar"
Kajian di balik lelakon Goro-Goro (versi campursari, WayangNet versi 1.2) ini akan terasa nikmat dan tidak akan kalah serunya dengan kita menonton film serial kungfu maupun film hollywood bilamana anda mau mengapresiasikannya dalam bentuk pandangan politik maupun sosiologis. Untuk mendapatkan roh alur cerita ini silahkan putar video di bawah itu biar semakin terasa hidup di dalamnya. Mari kita mulai.......
Goro-goro adalah bagian khas yang tidak bisa dipisahkan dari dunia perwayangan baik wayang kulit, wayang orang dan wayang golek ala Sunda, Bali, dan Sasak, Singapura dan Malaysia. Dalam session ini menurut pakemnya biasanya akan dihadirkan irama gamelan yang bergemuruh dan menggemparkan panggung wayang itu, ditambah dengan uraian sang dalang yang kalau mahir akan mampu membuat bergidik bulu roma penonton....
Digambarkan pada suatu kejadian yang begitu hebat dimana datangnya mara bahaya baik dalam negeri maupun ancaman luar negeri dan gejolak sosial yang begitu hebat!. Di sana-sini terjadi ontran-ontran alias kerusuhan sosial budaya sebagai akibat runtuhnya suatu sistem pemerintahan yang amburadul dan tak terkendali. Korupsi sudah menjadi hal yang wajar, yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah. Perampok dan bajingan tampil menjadi sosok pemimpin yang kharismatik dan diagung-agungkan, hingga rakyat sudah tidak bisa membedakan mana pahlawan dan mana penjahatnya. Semua pihak saling memperebutkan harta, tahta dan wanita tanpa mempedulikan etika, agama dan tatanan yang sudah disepakati bersama. Lalu gamelan itu lirih...hening....ning....ning...., mengalun pelan merambat sekujur tubuh pemirsa. Di saat kondisi genting itu sang radja malah mukso mokal tinggal colong playu, hingga alunan merintih suara sinden ini melengking mewakili suara rakyat yang kehilangan pemimpinnya. Serasa tenggelam dalam gemuruhnya gunung meletus di sana-sana dan bencana alam semakin tak tak mau mengerti jeritan dan teriakan kesakitan manusia-manusia yg sudah kehilangan jati dirinya. Dalam suasana seperti itu terdengar satu alunan kidung yang perih menyanyat hati.
Sudarjanta :
Ada kidung yang digubah di malam hari
Tetaplah kuat terhindar dari penyakit
Terhindar dari semua bencana
Jin dan setan enggan
Segala macam teluh tak ada yang berani
Begitu juga kejahatan
Yang dilakukan orang yang salah jalan
Bagaikan api tersiram air
Malingpun tak ada yang mendatangiku
Semua niat jahat akan sirna
Apuranen sun angetang, lelembut ing nusa Jawi kang rumeksa ing nagara,
para ratuning dhedhemit, agung sawahe ugi yen eling sadayanipun, pedah
kinaya tulah, ginawe tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa
Demit Okno,Demit Nggambleh,Demit Bunkem,Demit Amaltigunawan,Demit Tulus,lan para Dhedemit Tanah Jawi Kabeh ayo padha kumpul
Dalang : "....hhhhheerrrrr......keeerrrr....weeerrr...,,,,,"
ooonggg ...langit gonjang ganjing...
wong wedok wis orak eling.....oooo oo o ongggg....
klambi apik-apik disuwek-suwek dadi modeling....
awan dadi bengi ...bengi dadi awan!!!!
he eeeee.....kkeeeerrr
hopo tumon, iki jaman kasunyatan "ora udan wong podo payungan"
awan-awan padang njinggrang lampu cemlorot saben dalan......
he e e e.....eeeidaaan!!! gemluduk tanpo wujud....gemlodak tanpo rupo....humel..mel
oooiiiiii lha dalah sopo kuwi?
Alunan gamelan itu masih bergemuruh, kendang digeplak hingga bodoool...sang wayang disobek-sobek oleh penonton karena menjadi rebutan....bahkan kain batik sinden yang aduhai itu tak luput menjadi ajang jarahan yang semakin menggilaaaaa...hingga mau di bawa ke meja hijau, higga akhirnya sang sinden semakin meringis kesakitan karena sang dalang juga sudah sigar lambenyaaaa..........penonton semakin beringas tidak puas dengan sajian Ki dalang ini akhirnya terjadilah perebutan tampuk kekuasaan atas kursi dalang yang vacum itu.
oooooong...langit kelap kelap keliiipppp....mego mendung gemludug kludug-kludug!!!
Dalam suasana pemerintahan yang kosong di panggung wayang itu maka tampilah sosok atau tokoh-tokoh punakawan yang sudah asing di mata anak-anak negeri ini (dalam versi maya pada ini dilambangkan sebagi wakil atau suara rakyat yang dipimpin oleh Ki Semar Badranaya) untuk menemukan sosok pemimpin negeri yang ideal di Negara Astinapura:
Tulusjogja :
Amrih samubarang nir ing sambikala,
saking ngayogya kepareng kula bade kirim donga tolak balak...kanti rerepen punika
Singgah singgah kala singgah,
tan sumingkir durga kala sumingkir,
sing ngasirah sing ngasuku,
sing ngawulu sing ngabau,
sing ngatenggak kalawan buntut,
sing ngatan kasat mata,
muliya ing asal neki….
Dalang :
hingga akhirnya tampil si Lesmono Wuyung dengan setenggak anggur merah sambil merayu pembantunya
entheeett...eee ee eeeiiiittt....
sing nggambleh mleweh-mleweh kuwi sopoooooo oo oooo??
Monggo dikaji dalam dunia kekinian...
Note: tulisanku ini sambungan dari beberapa blog dan situskus :
Sudarjanta kaliyan Tulusjogaja meniko anggito Javanese Motion Multiply Administrator